Minggu, 06 Mei 2012

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK ( AKUNTANSI PEMERINTAHAN)


AKUNTANSI PEMERINTAHAN


A. Pengertian Akuntansi Pemerintahan

Kustadi Arinta (1996:11) menyebutkan bahwa AkuntansiPemerintahan adalah aplikasi akuntansi dibidang keuangan negara (public finance). Dalam hal ini khususnya tahapan pelaksanaananggaran (budget execution) termasuk segala pengaruh yangditimbulkannya, baik yang bersifat seketika maupun yang lebihpermanen pada semua tingkatan dan unit pemerintahan.Menurut Revrisond Baswir (2000:7), Akuntansi Pemerintahan(termasuk akuntansi untuk lembaga non profit  pada umumnya)merupakan bidang akuntansi yang berkaitan dengan lembagapemerintahan dan lembaga-lembaga yang bertujuan tidak untuk mencarilaba. Walaupun lembaga pemerintahan senantiasa berukuran besar, namun sebagaimana dalam perusahaan ia tergolong sebagai lembagamikro.
Bachtiar Arif dkk (2002:3) mendefinisikan AkuntansiPemerintahan sebagai suatu aktivitas pemberian jasa untuk menyediakan informasi keuangan pemerintah berdasarkan prosespencatatan, pengklasifikasian, pengikhtisaran suatu transaksi keuanganpemerintah serta penafsiran atas informasi keuangan tersebut.
Selain itu,Abdul Halim (2002:143) menyebutkan bahwa Akuntansi Pemerintahanadalah sebuah kegiatan jasa dalam rangka menyediakan informasikuantitatif terutama yang bersifat keuangan dari entitas pemerintah gunapengambilan keputusan ekonomi yang nalar dari pihak-pihak yangberkepentingan atas berbagai alternatif arah tindakan.


B.     Tujuan Akuntansi Pemerintahan
Tujuan Akuntansi Pemerintahan (governmental accounting)  menurut Kustadi Arinta (1996:11) adalah untuk menyediakaninformasi keuangan (financial information) mengenai pemerintahan disemua tingkatan dan unitnya yang ada. Di lain pihak Bachtiar Arif dkk (2002:5) menjelaskan bahwa tujuan akuntansi pemerintahan danakuntansi bisnis pada hakekatnya adalah sama yaitu memberikan informasi keuangan atas transaksi keuangan yang dilakukan organisasi tersebut dalam periode tertentu dan posisi keuangan pada tanggaltertentu kepada para penggunanya dalam rangka pengambilan    keputusan. Berkenaan dengan itu, Akuntansi Pemerintahan secarakhusus memiliki tujuan sebagai berikut:
  1. Akuntabilitas. Fungsi akuntabilitas lebih luas daripada sekedar ketaatankepada peraturan perundangan yang berlaku, tetapi tetapmemperhatikan penggunaan sumber daya secara bijaksana, efisien,efektif dan ekonomis. Tujuan utama dari akuntabilitas ditekankankarena setiap pengelola atau manajemen dapat menyampaikanakuntabilitas keuangan dengan menyampaikan suatu laporankeuangan.
  2. Manajerial. Selain tujuan akuntabilitas, akuntansi pemerintahanmenyediakan informasi keuangan bagi pemerintah untuk melakukan fungsi manajerial. Akuntansi Pemerintah memungkinkan pemerintah untuk melakukan perencanaan berupapenyusunan APBD dan strategi pembangunan lain untuk melakukan pelaksanaan kegiatan pembangunan dan pengendalianatas kegiatan tersebut dalam rangka pencapaian ketaatan kepada peraturan perundang-undangan, efisiensi, efektivitas dan ekonomis.
  3.  Pengawasan. Akuntansi Pemerintahan diadakan untuk memungkinkandiadakannya pengawasan pengurusan keuangan negara yang lebihmudah oleh aparat pemeriksa.
C.     Karakteristik Akuntansi Pemerintahan
Akuntansi Pemerintahan memiliki karakteristik tersendiri jikadibandingkan dengan akuntansi bisnis. Berdasarkan tujuan pemerintahdiatas, Bachtiar Arif dkk (2002:7) menyebutkan beberapa karakteristik akuntansi pemerintahan yaitu sebagai berikut:
  1. Pemerintahan tidak berorientasi laba sehingga didalam AkuntansiPemerintahan tidak ada laporan laba (income statement) dan treatment akuntansi yang berkaitan dengannya.
  2. Pemerintahan membukukan anggaran ketika anggaran tersebutdigunakan.
  3. Dalam akuntansi pemerintahan dimungkinkan mempergunakanlebih dari satu jenis dana.
  4. Akuntansi Pemerintahan akan membukukan pengeluaran modal.
  5.  Akuntansi Pemerintahan bersifat kaku karena sangat bergantungpada peraturan perundang-undangan.
  6.  Akuntansi Pemerintahan tidak mengenal perkiraan modal dan labayang ditahan dalam naraca.
D.    Syarat Akuntansi Pemerintahan
Beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh pemerintahansesuai dengan karakteristik dan bertujuan untuk memenuhiakuntabilitas keuangan nagara yang memadai. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan suatu pedoman untuk akuntansi pemerintahanm (A Manual Government Accounting) yang dapatdiringkas sebagai berikut (dalam Bachtiar Arif dkk, 2002:9):
1.      Dapat memenuhi persyaratan Undang-Undang Dasar, Undang-Undang dan Peraturan lain.
Akuntansi Pemerintah dirancang untuk memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditentukan oleh Undang-Undang Dasar, UU danPeraturan lain. Apabila terdapat dua yaitu untuk kepentinganefisiensi dan ekonomis disatu sisi, sedangkan disisi lain hal tersebut bertentangan dengan Undang-Undang Dasar, UU atau Peraturanlainnya, maka akuntansi tersebut harus disesuaikan denganUndang-Undang Dasar, Undang-Undang dan Peraturan lainnya.
2.      Dikaitkan dengan klasifikasi anggaran.
Sistem Akuntansi Pemerintahan harus dikembangkan sesuaidengan klasifikasi anggaran yang telah disetujui pemerintah danlembaga legeslatif. Fungsi anggaran dan akuntansi harus salingmelengkapi didalam pengelolaan keuangan negara serta harusdiintegrsikan.
3.      Perkiraan-perkiraan harus diselenggarakan.
Sistem Akuntansi Pemerintah harus mengembangkan perkiraan-perkiraan untuk mencatat transksi-transaksi yang terjadi. Perkiraan-perkiraan yang dibuat harus dapat menunjukkan akuntabilitaskeuangan negara yang andal dari sisi obyek dan tujuan penggunaandana serta pejabat atau organisasi yang mengelolanya.

4.      Memudahkan pemeriksaan oleh aparatur pemerintah.Sistem Akuntansi Pemerintah yang dikembangkan harusmemungkinkan aparat pemeriksaan untuk melakukan tugasnya.
5.      Sistem akuntansi harus terus dikembangkan.Dengan adanya perubahan lingkungan dan sifat transaksi, systemAkuntansi Pemerintah harus terus disesuaikan dan dikembangkansehingga tercapai efisiensi, efektivitas dan relevasi.
6.      Perkiraan-perkiraan yang harus dikembangkan secara efektif.Sistem Akuntansi Pemerintah harus mengembangkan perkiraan-perkiraan secara efektif sehubungan dengan sifat dan perubahanlingkungan sehingga dapat mengungkapkan hasil ekonomi dankeuangan dari pelaksanaan suatu program.
7.      Sistem harus dapat melayani kebutuhan dasar informasi keuanganguna pengembangan rencana dan program.Sistem Akuntansi Pemerintah harus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan para pengguna informasi keuangan yaitu,pemerintah, rakyat (lembaga legeslatif), lembaga donor, Bank Dunia, dan lain sebagainya.
8.      Pengadaan suatu perkiraan
Perkiraan-perkiran yang dibuat harus memungkinkan analisisekonomi atas data keuangan dan mereklasifikasi transaksi-transaksipemerintah baik pusat maupun daerah dalam rangka pengembangan perkiraan-perkiraan nasional



Senin, 30 April 2012

LAPORAN SEMINAR AKUNTANSI


LAPORAN SEMINAR AKUNTANSI

PERSEPSI AUDITOR ATAS PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI TERHADAP KINERJA INDIVIDUAL
( Studi Kasus pada Kantor Akuntan Publik Suprihadi Malang)






OLEH:
SUMISIH
NIM: 09102123






SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI ASIA MALANG
JURUSAN AKUNTANSI
JANUARI 2012

LAPORAN SEMINAR AKUNTANSI

PERSEPSI AUDITOR ATAS PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI TERHADAP KINERJA INDIVIDUAL
( Studi Kasus pada Kantor Akuntan Publik Suprihadi Malang)



Untuk Laporan Mata Kuliah Seminar Akuntansi





OLEH:
SUMISIH
NIM: 09102123









SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI ASIA MALANG
JURUSAN AKUNTANSI
JANUARI 2012
USULAN PENELITIAN


PERSEPSI AUDITOR ATAS PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI TERHADAP KINERJA INDIVIDUAL
( Studi Kasus pada Kantor Akuntan Publik Suprihadi Malang)




OLEH:
SUMISIH
NIM: 09102123




Diterima dan Disetujui
Pada Tanggal:………………………..



Ketua Jurusan Akuntansi,                                                 Dosen Pembimbing,



Annisa Fatimah, SST, MSA                                                 Aniek Murniati, S.Sos, MSA












KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Segala puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat serta hidayah yang telah diberikan kepada penulis. Sehingga penulis dapat menyelesaikan Seminar Akuntansi yang berjudul “PERSEPSI AUDITOR ATAS SISTEM INFORMASI AKUNTANSI TERHADAP KINERJA INDIVIDUAL (STUDI KASUS PADA KANTOR AKUNTAN PUBLIK SUPRIHADI MALANG)
Penyusunan Seminar Akuntansi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu persyaratan mencapai derajat gelar Sarjana Ekonomi di Sekolah Tinggi Ilmu Akuntansi ASIA Malang. Seminar Akuntansi ini sangat bermanfaat dan mempunyai nilai tersendiri bagi penulis, bahwa setiap masalah yang dihadapi harus dirubah menjadi suatu tantangan yang harus dilewati. Penulis berharap, Seminar Akuntansi ini dapat memberikan inspirasi bagi penulis sendiri dan pihak lain untuk terus menghasilkan suatu karya terutama dalam bentuk tulisan.
Dalam membuat Seminar Akuntansi ini, penulis tidak lepas dari bimbingan pihak-pihak yang bersangkutan, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.       Kedua orang tua penulis yang selalu mendoakan, mendukung serta selalu mencurahkan segala kasih sayangnya, sehingga tugas Seminar Akuntansi ini dapat terselesaikan dengan baik.
2.      Bapak Ir. Teguh Widodo, MM selaku Pimpinan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) ASIA Malang.
3.      Ibu Annisa Fatimah, SST., MSA selaku Ketua Jurusan Akuntansi STIE ASIA Malang.
4.      Ibu Anik Murniati S,.Sos, M.SA. selaku Dosen Wali sekaligus Dosen Pembimbing yang telah dengan sabar membimbing, mengarahkan dan memberikan motivasi kepada penulis.
5.      Semua dosen Perguruan Tinggi ASIA Malang yang telah memberikan kesempatan dan saran-saran dalam penyusunan seminar akuntansi ini.
6.      Seseorang yang selalu jadi semangatku, terima kasih atas kasih sayang, dukungan dan kesabarannya selama ini.
7.      Para sahabat dan temen2 CAHTROW 27 yang telah memberikan penulis saran dan gagasan serta motivasi bagi penulis untuk menyelesaikan Seminar Akuntansi ini.
8.      Serta seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan Seminar Akuntansi ini.
Penulis sangat menyadari bahwa penulisan Seminar Akuntansi yang penulis buat sangat jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis meminta saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan Seminar Akuntansi ini.
Semoga penyusunan Seminar Akuntansi ini bermanfaat bagi kita semua dalam menambah ilmu dan wawasan kita mengenai pentingnya sistem informasi akuntansi.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
                                                                                               Malang  Januari 2012
                                                                                                Penulis







DAFTAR ISI

HALAMAN COVER
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERSETUJUAN
KATA PENGANTAR ................................................................................................ i
DAFTAR ISI............................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL..................................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR............................................................................................... viii
A.      Latar Belakang Masalah ............................................................................... 1
B.       Rumusan Masalah ........................................................................................ 6
C.       Batasan Masalah ........................................................................................... 6
D.      Tujuan  dan Manfaat Penelitian ................................................................... 6
1.   Tujuan Penelitian...................................................................................... 6
2.   Manfaat Penelitian.................................................................................... 6
E.       Tinjauan Pustaka dan Hipotesis.................................................................... 7
1.   Landasan Penelitian Terdahulu................................................................. 7
2.   Landasan Teori......................................................................................... 8
a.       Teori Dasar Pemanfaatan Sistem Informasi Akuntansi...................... 8
1)   Theory Of Reasoned Action (TRA)................................................ 9
2)   Theory Of Attitude and Behavior.................................................. 11
3)   Technology Acceptance Model (TAM)......................................... 12
b.      Persepsi............................................................................................. 13
c.       Faktor-faktor yang mempengaruhi Persepsi..................................... 15
d.      Pengertian Audit dan Audit Internal................................................ 18
e.       Pengertian Audit Internal................................................................. 20
f.       Akuntan............................................................................................ 22
g.      Profesi Akuntan................................................................................ 23
1)      Profesi Akuntan Publik (Public Accountants)............................ 23
2)      Profesi Akuntan Intern ( Internal Accountant)........................... 23
3)      Profesi Akuntan Pemerintah ( Government Accountants).......... 24
4)      Profesi Akuntan Pendidik.......................................................... 24
h.      Auditor............................................................................................. 25
i.        Kinerja Auditor................................................................................. 27
j.        Sistem Informasi Akuntansi............................................................. 28
1)   Sistem........................................................................................... 28
2)   Informasi...................................................................................... 29
3)   Sistem Informasi.......................................................................... 30
4)   Akuntansi..................................................................................... 31
5)   Sistem Informasi Akuntansi......................................................... 31
6)   Manfaat dan Tujuan Sistem Informasi Akuntansi....................... 32
7)   Fungsi Sistem Informasi Akuntansi............................................. 34
k.      Kinerja Individual............................................................................ 36
1)   Pengertian Kinerja........................................................................ 36
2)   Dimensi-Dimensi Kinerja............................................................. 37
3)   Pengertian Kinerja Individual...................................................... 38
l.        Hubungan Sistem Informasi Akuntansi dengan Auditor Internal.. 40
1)   Auditing Around The Computer.................................................. 40
2)   Auditing Trough The Computer.................................................. 41
3)   Auditing With The Computer...................................................... 42
m.    Model Hubungan Sistem Informasi dan Kinerja............................ 42
n.      Hubungan persepsi Auditor dan Pemanfaatan Sistem Informasi Akuntansi Terhadap Kinerja auditor......................................................................................................... 44
3.   Kerangka Konseptual............................................................................ 45
4.   Hipotesis................................................................................................ 45
F.        Metode Penelitian...................................................................................... 46
1.   Lokasi Penelitian................................................................................... 46
2.   Jenis Penelitian...................................................................................... 46
3.   Populasi dan Sampel............................................................................. 46
4.   Jenis dan Sumber Data.......................................................................... 47
a.    Jenis Data.......................................................................................... 47
b.   Sumber Data..................................................................................... 48
5.   Metode Pengumpulan Data................................................................... 48
6.   Definisi Operasional Variabel............................................................... 49
a.    Variabel Independen ( X) / Persepsi Auditor atas pemanfaatan Sistem Informasi Akuntansi         49
b.Variabel depanden (Y)/ Kinerja Individual....................................... 50
7.   Metode Analisis Data dan Uji Hipotesa............................................... 50
a.    Uji Validitas...................................................................................... 50
b.   Uji Reliabilitas.................................................................................. 51
c.    Uji Asumsi Klasik............................................................................. 51
1)      Uji Normalitas............................................................................. 51
2)      Uji Autokorelasi.......................................................................... 51
3)      Uji Multikolinieritas.................................................................... 52
4)      Uji Heteroskedastisitas............................................................... 52
8.   Analisis Regresi..................................................................................... 53
9.   Uji Hipotesis.......................................................................................... 54

DAFTAR PUSTAKA

 


DAFTAR TABEL

Tabel 1: Penelitian Terdahulu................................................................................... 7






DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 : Theory Of Reasoned Action Model........................................................ 11
Gambar 2.2 : Model Hubungan dan Kinerja Yang berfokus pada Pemanfaatan Teknologi Informasi          43
Gambar 2.3 : Model Hubungan dan kinerja yang berfokus pada kesesuaian Kerja.... 44
Gambar 2.4 : Kerangka Konseptual............................................................................. 45










A.    Latar Belakang
Pada era globalisasi seperti sekarang ini, teknologi informasi sudah menjadi pilihan utama untuk menciptakan sistem informasi dalam suatu organisasi yang tangguh dan mampu melahirkan keunggulan kompetitif di tengah persaingan yang semakin ketat. Peranan teknologi informasi dalam berbagai aspek kegiatan bisnis dapat dipahami karena sebagai sebuah teknologi yang menitikberatkan pada pengaturan sistem informasi dengan penggunaan komputer. Teknologi informasi dapat memenuhi kebutuhan informasi dunia  bisnis dengan cepat, tepat, relavan dan akurat. Penyelesaian suatu pekerjaan akan lebih  cepat dan menghasilkan output yang relevan dan akurat terutama dalam hal pemrosesan dan pengolahan data yang berhubungan dengan kegiatan  organisasi (Wilkinson dan Cerullo, 1997).
Sistem informasi memberikan nilai tambah terhadap proses, produksi, kualitas manajemen, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah serta keunggulan kompetitif yang tentu saja sangat berguna bagi kegiatan bisnis (Kadir, 2003) dengan kata lain, sistem informasi diadakan untuk menunjang aktivitas usaha pada semua tingkatan organisasi. Penggunaan sistem informasi mencangkup sampai ketingkat operasional untuk meningkatkan kualitas produktivitas operasi. Oleh karena itu sistem informasi harus dapat diterima dan digunakan oleh seluruh karyawan dalam organisasi sehingga investasi yang besar untuk pengadaan sistem informasi akan diimbangi pula dengan produktivitas yang besar pula. Hal tersebut dapat menimbulkan pemikiran akan kebutuhan  berinvestasi dalam suatu informasi.
Dalam suatu perusahaan yang sifatnya memberikan jasa kepada masyarakat seperti Kantor Akuntan Publik, Bank, PLN, Telkom, Kantor Pelayanan Pajak dan lain sebagainya, peranan teknologi informasi sangat penting dalam melakukan kegiatan tugas akuntansi pada setiap karyawannya. Bagaimana personal computer dapat mempengaruhi data akuntansi dan dapat mengambil keputusan bisnis dalam suatu perusahaan (Mutmainah, 2006).
Kemajuan teknologi mempunyai pengaruh yang berarti terhadap akuntan (external auditor). Misalnya: dengan sistem informasi akuntansi yang semakin kompleks ini, proses pemeriksaan terhadap laporan keuangan yang dahulu (dalam sistem manual) memerlukan waktu yang lebih lama, dalam sistem yang baru (yang menggunakan komputer) pekerjaan pemeriksaan menjadi lebih singkat dan mudah, karena telah terkonsentrasi dalam program komputer. Berkas  (file) yang dahulu disimpan dalam  file cabinet, sekarang telah dikomputerisasikan dan tidak mudah dibaca oleh sembarang orang (tidak kasat mata). Akibatnya perubahan lingkungan yang mengikutsertakan penggunaan komputer ini menimbulkan lingkungan yang asing bagi akuntan, profesi akuntan telah mengantisipasi untuk mengadakan perkembangan peralatan dan teknik-teknik pemeriksaan dalam lingkungan sistem yang menggunakan komputer. (Noviantaka, 2011)
Menurut Staples dan Selldon (2004) (dalam Amri, 2009) salah satu tujuan utama penelitian di bidang  teknologi  informasi  adalah  untuk  membantu  tingkat  pemakai  akhir  dan organisasi agar dapat memanfaatkan teknologi informasi secara efektif. Di dalam riset  sistem  informasi  kepuasan  pengguna  dan  penggunaan  sistem  merupakan indikator  yang  sering  digunakan  sebagai  pengganti  (surrogate)  untuk  mengukur efektivitas  atau  keberhasilan  kinerja  suatu  sistem  informasi.
Persepsi adalah proses kognitif yang dialami setiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan penciuman (Thoha, 1992:141). Persepsi seseorang dapat terbentuk dari beberapa faktor seperti proses belajar, motivasi dan kepribadian seseorang (Kiryanto, 2001:203).
Dari penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa faktor proses belajar seorang Auditor seperti latar belakang pendidikan, ketrampilan maupun pengalaman seseorang dapat mempengaruhi terbentuknya persepsi seorang auditor, sebagai gambaran seorang Auditor yang berpengalaman akan memiliki persepsi terhadap Sistem informasi akuntansi yang berbeda dengan seorang auditor yang belum memiliki banyak pengalaman. Pada faktor motivasi, perbedaan motivasi (tinggi rendahnya motivasi) seseorang dapat menentukan persepsi seorang auditor atas sistem informasi akuntansi, motivasi tersebut seperti motivasi intrinsik (motivasi dari dalam diri seseorang) dan motivasi ekstrinsik (motivasi diluar diri seseorang). Begitu juga pada faktor kepribadian yaitu sesuatu yang mengembangkan ciri khas (keunikan) dari seseorang yang membedakan orang tersebut dengan orang lain dapat membentuk persepsi seorang akuntan. (Kiryanto, 2001:203).
Persepsi yang terbentuk dengan baik dari faktor proses belajar, motivasi dan kepribadian sangat menentukan persepsi seorang auditor terhadap Sistem informasi akuntansi. Hal tersebut dapat mempengaruhi  pengambilan keputusan dan perumusan kebijakan dalam melaksanakan seluruh kegiatan yang berkaitan dengan pencapaian tujuan  perusahaan yang telah ditetapkan. (Kiryanto, 2001:203).
Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat penyelesaian Laporan Hasil Audit adalah kompetensi auditor  dan pemahaman auditor terhadap Sistem Informasi Akuntansi yang digunakan perusahaan. Kompetensi berkaitan dengan pendidikan dan pengalaman memadai yang dimiliki auditor dalam bidang auditing dan akuntansi. Dalam melaksanakan audit,  auditor harus bertindak sebagai seorang yang ahli di bidang akuntansi dan auditing. Pencapaian keahlian dimulai dengan pendidikan formal, yang selanjutnya diperluas melalui pengalaman dalam praktik audit. Selain itu, auditor harus menjalani pelatihan teknis yang cukup yang mencakup aspek teknis maupun pendidikan umum. Untuk mencapai kompetensinya harus memperoleh pengalaman profesionalnya dengan mendapatkan supervisi memadai dan review atas pekerjaannya dari atasan yang lebih berpengalaman. Auditor harus secara terus menerus mengikuti perkembangan yang  terjadi. Auditor harus mempelajari, memahami dan menerapkan ketentuan-ketentuan baru dalam prinsip akuntansi dan standar auditing yang ditetapkan. (Esya,2008)
Sistem Informasi Akuntansi merupakan proses mengumpulkan, mengolongkan, mengolah data transaksi, lalu menganalisis, dan dikomunikasikan hasilnya dalam bentuk laporan keuangan perusahaan. Pemakai informasi keuangan yang dihasilkan oleh sistem informasi akuntansi adalah pihak dalam perusahaan, terutama manajemen dan pihak luar yang berkepentingan terhadap perusahaan termasuk auditor DJBC (Direktorat Jenderal Bea dan Cukai). Wilkinson (1993) mengemukakan berdasarkan definisi sistem informasi akuntansi maka tujuan dan manfaat sistem informasi akuntansi tersebut adalah sebagai pengolah transaksi  (transaction processing)  dan pengolah informasi  (information processing). Dengan melihat pentingnya sistem informasi akuntansi ini, maka pemahaman sistem informasi akuntansi ini menjadi sangat mutlak bagi seorang auditor.
Penelitian yang dilakukan Seftriadi (2008) membuktikan faktor-faktor keahlian dalam penggunaan sistem informasi, yang terdiri dari faktor persepsi kegunaan sistem informasi, tingkat kegelisahan  terhadap  komputer, kualitas sistem informasi, pelatihan komputer, keahlian di bidang komputer, dan tekanan  kerja secara bersama-sama (simultan) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja auditor pada Kantor Perwakilan BPK-RI di Wilayah Sumatera  Bagian Utara. Penelitian yang dilakukan oleh Esya  (2008) pemahaman SIA (Sistem Informasi Akuntansi) berpengaruh signifikan terhadap kinerja  auditor.
Berdasarkan uraian di atas,  peneliti mencoba untuk melihat sampai seberapa jauh pengaruh persepsi auditor atas pemanfaatan sistem informasi akuntansi terhadap kinerja individual pada Kantor Akuntan Publik Suprihadi Malang.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang diungkapkan dapat dirumuskan sebagai berikut:
Apakah persepsi auditor atas pemanfaatan sistem informasi akuntansi (SIA) berpengaruh terhadap kinerja individual?
C.    Batasan Masalah
Kinerja individual sebenarnya dipengaruhi oleh banyak faktor tetapi pada penelitian ini hanya dibatasi pada faktor persepsi atas pemanfaatan system informasi akuntansi.
D.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah :
Untuk menguji dan memberikan bukti empiris tentang pengaruh presepsi auditor  atas pemanfaatan sistem informasi akuntansi terhadap kinerja individual.
2.       Manfaat Penelitian
a.      Manfaat Teoritis
Penelitian ini dapat memberikan gambaran dan pemahaman mengenai pengaruh persepsi auditor dan pemanfaatan Sistem informasi akuntansi terhadap kinerja individual, serta dapat dijadikan referensi dan perbandingan bagi peneliti lain yang ingin meneliti tentang pengaruh persepsi auditor atas pemanfaatan Sistem informasi akuntansi terhadap kinerja individual.
b.      Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran, masukan dan pertimbangan bagi Kantor Akuntan Publik khususnya  mengenai pengaruh persepsi auditor atas pemanfaatan Sistem informasi akuntansi terhadap kinerja individual sehingga dapat membantu untuk mencapai keberhasilan penguasaan teknologi informasi dan pemanfaatan terhadap Sistem Informasi Akuntansi bagi peningkatan kinerja Auditor.
E.     Tinjauan Pustaka dan Hipotesis
1.                                                                                                                  Landasan Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu mengenai pengaruh persepsi auditor dan pemanfaatan system informasi akuntansi terhadap kinerja individual pada Kantor Akuntan Publik Suprihadi Malang dilakukan oleh beberapa peneliti, yaitu :
Tabel
Ringkasan Penelitian Terdahulu
No
Nama Peneliti
Judul Penelitian
Variabel Penelitian
Hasil Penelitian
1
Seftriadi (2008)
Pengaruh keahlian dalam penggunaan sistem Informasi terhadap  kinerja auditor pada Kantor perwakilan BPK-RI diwilayah Sumatera bagian utara



-  Kinerja Auditor,
-  Keahlian dalam Penggunaan Sistem Informasi.
faktor-faktor keahlian dalam penggunaan sistem informasi, yang terdiri dari faktor persepsi kegunaan sistem informasi, tingkat kegelisahan  terhadap  komputer, kualitas sistem informasi, pelatihan komputer, keahlian di bidang komputer, dan tekanan  kerja secara bersama-sama (simultan) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja auditor pada Kantor Perwakilan BPK-RI di Wilayah Sumatera  Bagian Utara,

2
Esya  ( 2008 )
Pengaruh Kompetensi Auditor dan Pemahaman Sistem Informasi Akuntansi terhadap kinerja Auditor Bea dan Cukai diwilayah Jakarta.

-      kompetensi auditor
-      Pemahaman Sistem Informasi Akuntansi
-      Kinerja Auditor
pemahaman SIA (Sistem Informasi Akuntansi)  berpengaruh signifikan terhadap kinerja  auditor.

            Sumber data primer (diolah)
Berdasarkan penelitian terdahulu, maka dapat dilihat perbedaan dengan penelitian yang sekarang yaitu, penelitian terdahulu menilai pemahaman SIA (Sistem Informasi Akuntansi)  dari sudut kompetensi auditor, Pemahaman Sistem Informasi Akuntansi, Kinerja Auditor sedangkan penelitian yang sekarang menilai Pemanfaatan SIA ( Sistem Informasi Akuntansi) dari sudut yang lain yaitu, presepsi auditor atas pemanfaatan system informasi akuntansi, kinerja individual.
2.      Landasan Teori
a.                              Teori Dasar Pemanfaatan Sistem Informasi Akuntansi
Teknologi dipandang sebagai alat yang digunakan  oleh individu dalam menjalankan tugasnya. Dalam konteks sistem informasi, teknologi menunjukkan sistem komputer (perangkat keras, perangkat lunak, dan data) dan dukungan bagi pemakai (pelatihan dan bantuan) yang disediakan untuk membantu pemakai dalam menjalankan tugas-tugasnya. Dalam kaitannya dengan pemanfaatan system informasi akuntansi teori yang mendasari yaitu Theory of Reasoned Action (TRA) yang dikembangkan oleh Ajzen dan Fishbein (1975, 1980) dan Theory of Atitudes and Behaviour yang dikembangkan oleh Triandis (1980).
1)      Theory of Reasoned Action
Teori tindakan beralasan (the theory of reasoned action-TRA) dikembangkan oleh Azjen dan Fishbein (1980). Teori ini merupakan suatu teori yang berhubungan dengan sikap dan perilaku individu dalam melaksanakan kegiatan. TRA (Theory of Reasoned Action) didefinisikan sebagai perasaan positif atau negatif seseorang individu (pengaruh evaluasi) tentang kinerja sikap yang ditargetkan (Fishbein and Ajzen, 1975 dalam Sunarta, 2005). TRA  (Theory of Reasoned Action) menjelaskan bahwa minat dari seseorang untuk melakukan (atau tidak melakukan) suatu perilaku yang merupakan penentu langsung dari tindakan atau perilaku seseorang. Berasal dari pengaturan  psikologi sosial, TRA (Theory of Reasoned Action) terbagi dalam tiga komponen yaitu, niat perilaku, sikap dan norma subyektif.  Pada tahap awal, perilaku  (behavior) diasumsikan oleh minat (intention). Pada tahap berikutnya minat-minat dapat dijelaskan dalam bentuk sikap terhadap perilaku dan norma-norma subyektif. Tahapan ketiga mempertimbangkan subyektif dalam bentuk kepercayaan-kepercayaan tentang konsekuen suatu perilaku tentang ekspektasi-ekspektasi normatif dari orang-orang yang relevan. Secara keseluruhan, berarti perilaku seseorang dapat dijelaskan dengan mempertimbangkan kepercayaan-kepercayaannya.
Miller (2005) mendefinisikan masing-masing dari tiga komponen teori ini sebagai berikut:
                                      i.      Sikap merupakan jumlah dari keyakinan tentang perilaku tertentu tertimbang oleh evaluasi dari keyakinan.
                                    ii.      Norma subyektif merupakn melihat pengaruh dari orang-orang di lingkungan sosial dan keyakinan orang dengan dihitung pentingnya pendapat mereka akan pengaruhi perilaku tersebut.
                                  iii.      Perilaku niat merupakan  fungsi dari kedua sikap terhadap perilaku dan norma subyektif terhadap perilaku yang telah ditemukan untuk memprediksi perilaku actual.
TRA  bekerja dengan baik jika diterapkan pada perilaku dimana individu memiliki pilihan atau kendali terhadap perilakunya  (volitional control).  jika perilaku tidak sepenuhnya  berada dalam kendali individu meskipun individu sangat bermotivasi oleh sikap dan norma subjektif, individu secara aktual tidak dapat melaksanakan perilakunya karena  ada intervensi dari kondisi lingkungan kerja. Menurut Ajzen dan Fishbein (1975), pada intinya, TRA menyatakan bahwa “attitudes follow reasonably from the  beliefs people hold about the object of attitudes, just as intentions and action follow reasonably from the attitudes”. Manusia dalam organisasi mengembangkan  berbagai jenis sikap dan perilaku. Beberapa sikap dan perilaku yang relevan dengan study of accountant diantaranya adalah kepuasan kerja, komitmen organisasional dan profesional, berbagi peran, turnover serta ketidakhadiran (Ghozali, 2006).
2)      Theory of Attitude and Behavior
Teori sikap dan perilaku (theory of attitudes and behavior) dikembangkan oleh Triandis (1980) yang menyatakan bahwa perilaku ditentukan oleh apa yang orang-orang ingin lakukan (sikap), apa yang mereka pikirkan akan mereka lakukan (aturan-aturan sosial), apa yang   mereka biasa lakukan (kebiasaan) dan dengan konsekuensi perilaku yang mereka pikirkan. Sikap merupakan sebuah bangunan hipotesis yang mewakili suatu derajat individu dari suka atau tidak suka untuk item.  Triandis (1980) menyajikan suatu model perilaku interpersonal yang lebih komprehensif dengan menyatakan faktor-faktor sosial, perasaan dan konsekuensi yang dirasakan mempengaruhi tujuan perilaku dan sebaliknya akan mempengaruhi perilaku. Perilaku tidak mungkin tejadi jika situsasinya (misalnya, kondisi yang memfasilitasi) tidak memungkinkan. Jadi, jika seseorang bermaksud untuk menggunakan personal computer, tetapi tidak mempunyai kemudahan atau kesempatan untuk memperolehnya, maka manfaat yang dirasakan akan berkurang.
3)      Technology Acceptance Model (TAM)
Salah satu teori tentang penggunaan  sistem informasi akuntansi yang sangat berpengaruh dan umum digunakan untuk menjelaskan penerimaan individual terhadap penggunaan sistem informasi akuntansi adalah model penerimaan teknologi atau yang disebut Theory Acceptance Model (TAM) diperkenalkan oleh Fred D. Davis pada tahun 1989 sebagai adaptasi dari  Technology of Reasoned Action (TRA). Technology Acceptance Model adalah sebuah sistem informasi (sistem yang terdiri dari jaringan semua saluran komunikasi yang digunakan dalam sebuah organisasi) teori bahwa bagaimana pengguna datang untuk  menerima dan menggunakan teknologi (DavisF.D, 1989).
Model ini menunjukkan bahwa ketika pengguna dihadapkan dengan sebuah teknologi system informasi akuntansi baru, sejumlah faktor yang mempengaruhi keputusan mereka tentang bagaimana dan kapan mereka menggunakannya. TAM menunjukkan kegunaan dan kemudahan penggunaan akan mempengaruhi niat individu dalam memanfaatkan sistem informasi akuntansi, dengan determinan attitudional, dipisahkan masing-masing menjadi perilaku pemakaian  (usage) dengan dua perangkat variabel persepsi kegunaan  (perceived usefulness) dan persepsi kemudahan penggunaan  (perceived ease of use) yang diterapkan pada  berbagai konteks penerimaan teknologi komputer.
b.   Persepsi
Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa suatu organisasi selalu terjadi proses komunikasi antara orang yang satu dengan orang yang lain, baik secara perorangan maupun secara kelompok. Dalam proses tersebut, baik seorang auditor ataupun seorang klien akan berinisiatif dan berharap agar tujuannya berkomunikasi dapat diterima dan dimengerti oleh yang menerima. Penerimaan inilah yang disebut dengan persepsi Kiryanto (2001:202).
Ada beberapa definisi persepsi sebagai berikut :
1)      Menurut Gibson, et.all., yang dialih bahasakan oleh Djakarsih (1990:56) “Persepsi adalah Proses kognitif yang dipergunakan seseorang untuk menafsirkan dan memahami dunia sekitarnya”.
2)      Robbins (1993:135) menyatakan bahwa: “Perception can be defined as a process by which individuals organize, and interpret their sensory impressions in order to give meaning to their environment”.
3)      Assel (1984) mendefinisikan persepsi sebagai berikut: “Perception is the processby which people select organize, and interpret sensory stimule into a meaningful and coherent picture”.
Menurut Thoha (1992 : 141) “Persepsi adalah proses kognitif yang dialami setiap orang didalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, penghayatan, perasaan, dan penciuman”.
Persepsi adalah bagaimana orang-orang melihat atau  mengiterpretasikan peristiwa,objek, serta  manusia.  Orang-orang  bertindak  atas  dasar  persepsi  mereka dengan mengabaikan apakah persepsi itu mencerminkan kenyataan yang sebenarnya. Pada  kenyataanya,  masing-masing  orang  memiliki  persepsinya  sendiri  atas  suatu kejadian.  Definisi  persepsi  yang  formal  adalah  proses  dengan  mana  seseorang memilih,  berusaha,  dan  mengiterpretasikan  rangsangan  kedalam  suatu  gambaran yang terpadu dan penuh arti. (Ikhsan Arfan dan  Ishak Muhammad, 2005 )
Menurut  Kamus  Besar  Bahasa  Indonesia  (dalam  Ikhsan  Arfan  dan Ishak Muhammad, 2005)  mendefinisikan  persepsi  sebagai  tanggapan  (penerimaan) langsung dari sesuatu atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca indera.  Sedangkan  dalam  lingkup  yang  lebih  luas,  persepsi  merupakan  suatu  proses yang  melibatkan  pengetahuan-pengetahuan  sebelumnya  dalam  memperoleh  dan mengiterpretasikan  stimulus  yang  ditunjukan  oleh  panca  indera. Dengan  kata  lain, persepsi merupakan kombinasi antara faktor utama dunia luar (stimulus visual) dan diri manusia itu sendiri (pengetahuan-pengetahuan sebelumnya).
Jadi persepsi adalah proses dimana kita menafsirkan dan mengorganisasikan pola stimulus dalam lingkungan.
c.    Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Persepsi
Banyak stimulus yang mempengaruhi indera-indera lainnya ditambah dengan pengaruh situasi lingkungan secara keseluruhan. Dengan banyaknya stimulus yang datang melanda orang-orang maka perlu adanya seleksi atas semuannya itu sehingga diperoleh suatu stimulus yang tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Menurut Kiryanto (2001:203), Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses seleksi persepsi antara lain :
1)   Proses belajar
Istilah belajar yang dimaksud adalah dalam arti kata yang sangat umum, bukan hanya menyangkut proses belajar formal yang biasa dilakukan dibangku sekolah tetapi juga segala bentuk pengalaman, yang merupakan hasil kontak antara manusia dengan lingkungannya.
Keberhasilan auditorpun sangat tergantung pada kemampuan belajarnya, selain dituntut untuk menguasai aneka keterampilan tekhnis, seorang auditor juga dituntut memiliki kemampuan yang tinggi untuk belajar dan beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Belajar dari pengalaman orang lain juga belajar dari kegagalan maupun keberhasilan dimasa-masa yang lalu adalah merupakan contoh dari proses belajar yang dapat dimanfaatkan oleh para auditor dalam menunjang keberhasilan.


2)   Motivasi
Motivasi adalah konsep yang menguraikan tentang kekuatan-kekuatan yang ada dalam diri setiap individu untuk memulai dan mengarahkan prilaku (Kiryanto, 2001: 203).
Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan, dorongan, kebutuhan, semangat, tekanan atau mekanisme psikologis yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai prestasi tertentu sesuai dengan apa yang dikehendakinya.
Motivasi merupakan suatu proses psikologis yang mencerminkan sikap, kebutuhan, persepsi dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang. Motivasi sebagai proses psikologis timbul diakibatkan oleh faktor dari dalam diri seseorang itu sendiri yang disebut intrinsik dan sedangkan faktor dari luar yang disebut ekstrinsik.
Faktor intrinsik berupa kepribadian, sikap, pengalaman dan pendidikan, atau berbagai harapan, cita-cita yang menjangkau ke masa depan. Sedangkan faktor ekstrinsik dapat ditimbulkan oleh berbagai sumber, bisa karena pengaruh pimpinan atau faktor-faktor lain yang kompleks. Motivasi juga merupakan konsep yang menguraikan tentang kekuatan-kekuatan yang ada dalam setiap diri individu untuk memulai dan mengarahkan prilaku. Berkaitan dengan proses belajar, motivasi sangatlah diperlukan. Diyakini bahwa hasil belajar akan meningkat apabila mempunyai motivasi yang kuat.

3)   Kepribadian
Hal penting yang perlu mendapat perhatian untuk menunjukan pengertian kepribadian adalah sesuatu yang mengembangkan ciri khas (keunikan) dari seseorang yang membedakan orang tersebut dengan orang lain. Kepribadian adalah seluruh sikap, perasaan, ekspresi dan tempramen seseorang. Sikap, perasaan, ekspresi dan tempramen akan terwujud dalam tindakan seseorang jika dihadapkan pada situasi tertentu.
Seseorang mempunyai kecenderungan prilaku yang baku, atau pola dan konsisten, sehingga menjadi ciri khas pribadinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian antara lain:
                             i.   Warisan biologis
Adalah semua hal yang diterima seseorang sebagai manusia melalui gen kedua orang tuannya atau sifat turunan dari kedua orang tuannya.
                           ii.   Lingkungan fisik.
Pengaruh lingkungan fisik terhadap kepribadian manusia paling sedikit dibandingkan faktor-faktor lainnya. Lingkungan fisik tidak mendorong terjadinya kepribadian khusus seseorang.
Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang antara lain : Proses belajar, motivasi dan kepribadian. Ketigannya bekerja secara bersama-sama untuk memproses sebuah stimulus yang diterima dan menghasilkan sebuah respon sehingga menghasilkan suatu tindakan yang positif. Terutama dibutuhkan oleh seorang manajer dalam membuat suatu keputusan.
d.                              Pengertian Audit dan Audit Internal
1)      Pengertian Audit
Auditing menurut Arens dan Loebbecke (2003:1) adalah Proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seseorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dimaksud dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Auditing seharusnya dilakukan oleh seseorang yang independen dan kompeten.
Sedangkan menurut Mulyadi (2002:9) secara umum auditing adalah suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.
Boynton (2006:5) menurut Report of the Committee on Basic Auditing Concepts of the American Accounting Assocation” (Accounting  Review, vol.47) memberikan definisi auditing sebagai berikut: “Auditing adalah suatu proses sistematis untuk memperoleh serta mengevaluasi buktisecara objektif mengenai asersi-asersi kegiatan dan peristiwa ekonomi,dengan tujuan menetapkan derajat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Beberapa ciri penting yang ada dalam definisi menurut Report of the Committee on Basic Auditing Concepts of the American Accounting  Assocation” (Accounting Review, vol.47) dapat diuraikan sebagai berikut:
i)        Suatu proses sistematis, berupa serangkaian atau prosedur yang logis, terstruktur, dan terorganisir.  Auditing Standards Board  (Dewan Standar Auditing) menerbitkan Generally Accepted Auditing Standards (Standar Auditing yang Berlaku Umum) yang digunakan sebagai professional berkaitan dengan proses audit.
ii)      Memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif, berarti memeriksa dasar asersi serta mengevaluasi hasil pemeriksaan tersebut tanpa memihak dan berprasangka, baik untuk atau terhadap perorangan atau entitas yang membuat asersi tersebut.
iii)    Asersi tentang kegiatan dan peristiwa ekonomi merupakan representasi yang dibuat oleh perorangan atau entitas. Asersi ini merupakan subjek pokok auditing.
iv)    Derajat kesesuaian. Hal ini menunjuk pada kedekatan di mana asersi dapat diidentifikasi dan dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan.
v)      Kriteria yang telah ditetapkan adalah standar-standar yang digunakan sebagai dasar untuk menilai asersi atau pernyataan.
vi)    Penyampaian hasil, diperoleh melalui laporan tertulis yang menunjukkan derajat kesesuaian antara asersi dan kriteria yang ditetapkan.
vii)  Pihak-pihak yang berkepentingan adalah mereka yang menggunakan atau mengandalkan temuan-temuan auditor. Dalam lingkungan bisnis mereka adalah para pemegang saham, manajemen, kreditor, pemerintah, dan masyarakat luas.
e.                               Pengertian Auditor Internal
Menurut Mulyadi dan Puradiredja (2002), Auditor internal adalah: “Auditor yang bekerja di dalam perusahaan (perusahaan Negara maupun perusahaan swasta) yang tugas pokoknya adalah menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh manajemen puncak telah dipatuhi, menentukan baik atau tidaknya penjagaan terhadap kekayaan organisasi, menentukan efisiensi dan efektivitas prosedur kegiatan organisasi, serta menentukan keandalan informasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian dalam organisasi”.
Menurut Boynton (2006:8) mendefinisikan auditor internal sebagai berikut: “Auditor internal adalah pegawai dari organisasi yang diaudit. Auditor jenis ini melibatkan diri dalam suatu kegiatan penilaian independen, yang dinamakan audit internal, dalam lingkungan organsiasi sebagai suatu bentuk jasa bagi organisasi. Dan bertujuan untuk membantu manajemen organisasi dalam memberikan pertanggung jawaban yang efektif”.
Beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa auditor internal merupakan sebuah profesi yang dinamis yang mengantisipasi perubahan dalam lingkungan operasinya sangat beradaptasi terhadap perubahan - perubahan struktur, proses dan teknologi informasinya. Auditor internal membantu suatu organisasi untuk mencapai tujuannya dengan membawa pendekatan yang sistematis dan disiplin untuk mengevaluasi dan meningkatkan keefektifan sistem informasi akuntansi.
Auditor internal membantu perusahaan dengan memeriksa sistem informasi akuntansi tersebut. Auditor internal diharapkan mampu untuk membantu mengantisipasi perubahan di dalam lingkungan usahanya terutama dalam bidang perkembangan teknologi komputer dan melalui peran mereka, perusahaan mampu menyesuaikan dirinya terhadap lingkungan yang berubah. Tidak hanya itu, auditor yang sebelumnya hanya melakukan pemeriksaan terhadap laporan keuangan historis, kini auditor  berkepentingan untuk memberikan nilai yang berguna bagi perusahaan untuk masa sekarang ataupun untuk masa yang akan datang. Auditor juga diharapkan mampu memberikan sarana dan kontribusi bagi manajemen perusahaan atas keputusan yang akan diambilnya di masa yang akan datang serta dilibatkan dalam perencanaan keputusan strategis perusahaan.

f.                               Akuntan
Akuntan adalah suatu gelar profesi yang pemakaiannya dilindungi oleh peraturan (Undang-undang No. 34 tahun 1945). Peraturan ini mengatakan bahwa gelar akuntan hanya dapat dipakai oleh mereka yang telah menyelesaikan pendidikannya dari perguruan tinggi yang diakui menurut peraturan tersebut dan telah terdaftar pada Departemen Keuangan yang dibuktikan pemberian nomor register. Apabila seseorang telah lulus dari pendidikan tinggi dimaksud tetapi tidak terdaftar maka yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan tersebut, bukan akuntan. Oleh sebab itu, semua “akuntan yang resmi” mempunyai nomor register (Regar, 2007:7).
Akuntan merupakan profesi yang mengawal penerapan good corporate governance (good governance) baik di swasta maupun di pemerintahan agar berjalan sesuai pada jalurnya. Akuntan yang tidak berintegritas dan tidak bermoral membuat segala sesuatunya menjadi berantakan (akuntansibisnis.wordpress.com).
Menurut International Federation of Accountants (dalam Regar, 2007), profesi akuntan adalah semua bidang pekerjaan yang mempergunakan keahlian di bidang akuntansi, termasuk bidang pekerjaan akuntan publik, akuntan intern yang bekerja pada perusahaan industri, keuangan atau dagang, akuntan yang bekerja di pemerintah, dan akuntan sebagai pendidik.

g.   Profesi Akuntan
Profesi Akuntan dapat digolongkan sebagai berikut:
1)      Profesi Akuntan Publik (Public Accountants)
Akuntan publik atau juga dikenal dengan akuntan eksternal adalah akuntan independen yang memberikan jasa-jasanya atas dasar pembayaran tertentu. Mereka bekerja bebas dan umumnya mendirikan suatu kantor akuntan. Yang termasuk dalam kategori akuntan publik adalah akuntan yang bekerja pada kantor akuntan publik (KAP) dan dalam prakteknya sebagai seorang akuntan publik dan mendirikan kantor akuntan, seseorang harus memperoleh izin dari Departemen Keuangan. Seorang akuntan publik dapat melakukan pemeriksaan (audit), misalnya terhadap jasa perpajakan, jasa konsultasi manajemen, dan jasa penyusunan sistem manajemen.
2)      Profesi Akuntan Intern (Internal Accountant)
Akuntan intern adalah akuntan yang bekerja dalam suatu perusahaan atau organisasi. Akuntan intern ini disebut juga akuntan manajemen. Jabatan tersebut yang dapat diduduki mulai dari Staf biasa sampai dengan Kepala Bagian Akuntansi atau Direktur Keuangan. Tugas mereka adalah menyusun system akuntansi, menyusun laporan keuangan kepada pihak-pihak eksternal, menyusun laporan keuangan kepada pemimpin perusahaan, menyusun anggaran, penanganan masalah perpajakan dan pemeriksaan intern.

3)      Profesi Akuntan Pemerintah (Government Accountants)
Akuntan pemerintah adalah akuntan yang bekerja pada lembaga-lembaga pemerintah, misalnya di kantor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
4)      Profesi Akuntan Pendidik
Akuntan pendidik adalah akuntan yang bertugas dalam pendidikan akuntansi, melakukan penelitian dan pengembangan akuntansi, mengajar, dan menyusun kurikulum pendidikan akuntansi di perguruan tinggi. Pada intinya akuntan harus terus menjaga dan mengembangkan profesionalismenya dalam menjalankan seluruh tugasnya, karenanya dapatlah diuraikan hal-hal yang harus dilakukan oleh setiap akuntan sesuai dengan bidangnya sebagai berikut (Wulansari, 2008: 67):
Profesionalisme akan dapat ditingkatkan melalui penguasaan bahasa asing, teknologi informasi, dan penguasaan metode akuntansi untuk transaksi perusahaan multinasional.
Akuntan publik yang profesional adalah mereka yang kompeten dalam melakukan audit atas laporan keuangan perusahaan domestik dan multinasional dengan sistem manual atau berbasis teknologi informasi. Kantor akuntan publik juga harus mempunyai kompetensi di bidang review dan kompilasi.
Akuntan internal (manajemen) perlu meningkatkan profesionalismenya di bidang metode akuntansi untuk transaksi perusahaan nasional dan multinasional, penguasaan bahasa asing, dan teknologi informasi. Akuntan manajemen juga perlu memiliki kemampuan dalam bidang komunikasi dan manajemen, sehingga dapat berperan dalam proses pengambilan keputusan.
Akuntan pendidik harus dapat melakukan transfer of knowledge kepada mahasiswanya, memiliki tingkat pendidikan yang tinggi dan menguasai pengetahuan bisnis dan akuntansi, teknologi informasi dan mampu mengembangkan pengetahuannya melalui penelitian.
Akuntan pemerintah harus menguasai akuntansi dan audit pemerintahan serta audit perusahaan karena lingkup keuangan negara juga meliputi BUMN dan BUMD. Dengan penguasaan teknologi informasi akan meningkatkan profesionalisme akuntan pemerintah.
h.   Auditor
Auditor adalah orang bertugas melakukan audit. Sedangkan pengertian  audit Arens dan Loebbecke (1997)  mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan audit adalah: Auditing is the process of accumulating and evaluating of evidence about information to determine and report on the degree Of correspondence between the information and established criteria  Auditing should be done by competent independent person. 
Dari definisi menurut Arens dan Loebbecke di atas dapat diambil kesimpulan bahwa unsur-unsur audit adalah :
1)   Proses akumulasi informasi
Informasi dapat berupa berbagai macam bentuk, yaitu berupa informasi yang dapat diukur, seperti laporan keuangan  perusahaan. Kriteria untuk mengevaluasi informasi tersebut tergantung dari jenis  informasi yang akan  diaudit, misalnya untuk laporan keuangan maka kriterianya adalah prinsip akuntansi keuangan yang diterima umum (Generally Accepted accounting principle)
2)   Pengumpulan dan evaluasi bahan bukti informasi
Bahan bukti adalah informasi yang digunakan oleh auditor untuk menentukan apakah informasi yang diaudit sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Bahan bukti bentuknya dapat berupa lisan, tertulis.atau hasil observasi oleh auditor. Bahan bukti harus mencukupi dalam jumlah dan kualitas untuk memenuhi tujuan audit.
3)   Pelaporan
Hasil audit dalam bentuk laporan audit menginformasikan kepada para pemakai mengenai pendapat auditor atas tingkat kesesuaian antara informasi dan kriteria yang telah ditetapkan.
4)   Orang yang kompeten dan independen
Berdasarkan kegiatan di atas, auditor harus memiliki kemampuan yang memadai agar bisa memahami kriteria yang digunakan dan cukup kompeten untuk mengetahui jenis dan jumlah bukti-bukti yang diperoleh untuk mendapatkan kesimpulan yang tepat. Adapun independen berarti seorang auditor harus dapat bersikap objektif dalam menjalankan  tugasnya. Seorang auditor tidak boleh dipengaruhi oleh siapapun dan bebas dari bias prasangka.

i.                                Kinerja Auditor
Kinerja auditor merupakan tindakan atau pelaksanaan tugas pemeriksaan yang telah diselesaikan oleh auditor dalam kurun waktutertentu. Menurut Kalbers dan Forgarty (1995) dalam Trisnaningsih (2007:8) mengemukakan bahwa kinerja auditor sebagai evaluasi terhadap pekerjaan yang dilakukan atasan, rekan kerja, diri sendiri, dan bawahan langsung. Kinerja auditor dapat ditingkatkan atau dapat menjadi maju ( improved ) dan mencapai tingkat yang paling baik (excellent ) dengan mengidentifikasi dan menganalisis aktivitas kerja. Pada intinya, perusahaan harus yakin bahwa para personil benar-benar melakukan aktivitas yang benar dan dengan cara yang tepat pula.
Goodhue dan Thompson (1995) dalam Jumaili (2005) mengungkapkan bahwa kinerja yang dihasilkan akan kecocokan tugas teknologi berimplikasi pada efisiensi, efektivitas dan kualitas yang lebihtinggi terhadap pemanfaatan teknologi serta implikasi kinerja yang lebih baik pada sistem informasi. Sistem dengan task-technology fit  yang lebih tinggi mengantarkan pada kinerja yang lebih baik karena memenuhi kebutuhan individu untuk melaksanakan dan menyelesaikan tugas yangdibebankan. Kinerja akuntan khususnya auditor menggunakan system informasi pada saat mereka membutuhkan dan mengambil informasi serta menyiapkan laporan kepada manajemen dan laporan keuangan kepada pihak luar. Para akuntan terutama auditor internal diasumsikan merancang system informasi pada saat mereka bekerja dengan menggunakan bagan akun, sehingga terbentuk suatu rancangan sistem informasi yang berisikan segala bentuk laporan dan informasi tentang keadaan perusahaan yang pada akhirnya memudahkan  stakeholder  perusahaan untuk mengontrol perusahaannya. Pengenalan dan pemahaman komputer dalam dunia kerja menjadikan sistem informasi menjadi sangat penting terhadap profesi auditor.
j.                                Sistem Informasi Akuntansi
1)   Sistem
Suatu perusahaan dikatakan baik jika mampu membentuk organisasi yang rapi dan rasional, yaitu telah memiliki sistem dan prosedur yang memadai. Pengguna sistem dan prosedur yang tepat dapat mendukung kelancaran operasi perusahaan. Sistem dan prosedur sangat penting peranannya karena membantu manajemen untuk memperoleh informasi tentang tingkat efisiensi dan efektivitas perusahaan.
Menurut  Leod (2008) Sistem adalah sekelompok elemen-elemen yang terintegrasi dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu tujuan. Tidak semua sistem memiliki kombinasi elemen yang sama tapi susunan dasar adalah: input, transformasi, output, mekanisme control dan tujuan.
Mulyadi (2008) mendefinisikan sistem sebagai suatu jaringan prosedur yang dibuat menurut pola yang terpadu untuk melaksanakankegiatan pokok perusahaan. Sedangkan menurut Subari (2004)mendefinisikan sistem sebagai suatu jaringan prosedur yang dibuat menurut pola yang terpadu untuk melaksanakan tugas pokok perusahaan.
Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sistem hampir selalu terdiri dari beberapa subsistem kecil, yang masing-masing melakukan fungsi khusus yang penting untuk mendukung bagi sistem yang lebih besar, tempat mereka berada.
2)   Informasi
Telah diketahui bahwa informasi merupakan hal yang sangat penting bagi manajemen di dalam mengambil keputusan. Informasi menunjukkan hasil dan pengolahan data yang telah diorganisasikan dan berguna bagi orang yang menerimanya.
Dibawah ini adalah pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh para ahli diantaranya yaitu :
Menurut Subari (2004) informasi adalah sebagai berikut:“Informasi adalah data yang berguna yang diolah sehingga dapat dijadikandasar untuk mengambil keputusan yang tepat”.
Menurut Hall (2007:14) informasi adalah suatu proses dan pemakai yang melakukan suatu tindakan yang dapat dilakukan atau tidak dilakukan.
Informasi sangat penting dalam suatu organisasi, informasi mengarahkan dan memperlancar kegiatan sehari-hari. Suatu sistem yang kurang dapat informasi akan menjadi kerdil dan kurang berguna karena masukan-masukan dari data kurang berfungsi dengan baik.
Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa informasi merupakan hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian nyata (fakta) yang digunakan dalam pengambilan keputusan. Dengan kata lain, informasi adalah fakta yang mempunyai artidan berguna untuk mencapai tujuan tertentu. Informasi berbeda dengan data, karena informasi merupakan hasil akhir atau keluaran sistem informasi. Sedangkan data merupakan bahan yang akan diolah oleh sistem informasi. Data merupakan angka, tulisan, gambar, dan bahkan symbol.
3)   Sistem Informasi
Definisi sistem informasi secara umum adalah suatu system manusia atau mesin yang terpadu ( integrated ) untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi, manajemen dan pengambilan keputusan ( Decision making ).
Menurut Laudon dan Laudon (2008) sistem informasi adalah sebagai berikut : ”Sistem informasi merupakan seperangkat komponen yang saling berhubungan yang berfungsi mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan mendistribusikan informasi untuk mendukung pembuatan keputusan dan pengawasan dalam organisasi”.

4)   Akuntansi
Menurut Niswonger, Warren, Reeve dan Fees (2006:6), akuntansi adalah sebagai berikut: ”Akuntansi adalah sistem informasi yang memberikan laporan kepada pihak-pihak berkepentingan mengenai kegiatan ekonomi dan kondisi perusahaan”.
Menurut Suwardjono (2005:7) menyatakan bahwa akuntansi adalah seperangkat pengetahuan yang mempelajari perekayasaan penyediaan jasa berupa informasi keuangan kuantitatif unit-unit organisasi dalam suatu lingkungan negara tertentu dan cara penyampaian (pelaporan) informasi tersebut kepada pihak yang berkepentingan untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan ekonomis. Sehingga dapat disimpulkan bahwa akuntansi adalah system yang memberikan informasi kuantitatif bisnis ekonomi, terutama sifat-sifat keuangan yang ditujukan untuk digunakan dalam pengambilan keputusann ekonomis.
5)   Sistem Informasi Akuntansi
Menurut Jogiyanto (2003:225) sistem informasi akuntansi adalah sebagai berikut : “Sistem informasi akuntansi merupakan system informasi yang merekam dan melaporkan transaksi bisnis aliran dana dalam organisasi, dan menghasilkan laporan keuangan”.
Bodnar, George H, and S. Hopwood William (2005:1) mendefinisikan sistem informasi akuntansi sebagai berikut : “Sistem informasi akuntansi merupakan kumpulan sumber daya yang dirancang untuk menyediakan data bagi beragam pengambil keputusan sesuai dengankebutuhan dan kewenangan mereka”.
Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi akuntansi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem didalam suatu organsasi yang merupakan kombinasi dari manusia, fasilitas, teknologi, media, prosedur-prosedur dan pengendalian yang ditunjukkan untuk mendapatkan jalur komunikasi penting, memproses tipe transaksi rutin tertentu, memberi sinyal kepada manajemen dan yang lainnya terhadap kejadian-kejadian internal.
6)   Manfaat dan Tujuan sistem informasi akuntansi
Wilkinson (1997) mengemukakan berdasarkan definisi sistem informasi akuntansi maka tujuan dan manfaat sistem informasi akuntansi tersebut adalah sebagai pengolah transaksi  (transaction processing)  dan pengolah informasi (information processing). 
                                i.      Pemrosesan Transaksi
Lebih lanjut Wilkinson (1997) menguraikan bahwa transaksi memungkinkan perusahaan melakukan operasi, menyelenggarakan arsip dan catatan yang up to date, dan mencerminkan aktivitas organisasi. Transaksi akuntansi merupakan transaksi pertukaran yang mempunyai nilai ekonomis. Tipe transaksi dasar adalah: (1) Penjualan produk atau jasa, (2) Pembelian bahan baku, barang dagangan, jasa, dan aset tetap dari suplier, (3) Penerimaan kas, (4) Pengeluaran kas kepada suplier, (5) Pengeluaran kas gaji karyawan. Sebagai pengolah transaksi, sistem informasi akuntansi berperan mengatur dan mengoperasionalkan semua aktivitas transaksi perusahaan. 
                              ii.      Pemrosesan informasi
Tujuan kedua sistem informasi akuntansi adalah untuk menyediakan informasi yang diperlukan dalam pengambilan keputusan yang dilaksanakan oleh aktivitas yang disebut pemrosesan informasi. Sebagian dari keluaran yang diperlukan oleh pemroses informasi disediakan oleh sistem pemrosesan transaksi, seperti laporan keuangan dari sistem pemrosesan transaksi. Namun sebagian besar diperoleh dari sumber lain, baik dari dalam maupun dari luar perusahaan. Pengguna utama pemrosesan transaksi adalah manajer perusahaan. Mereka mempunyai tanggung jawab pokok untuk mengambil keputusan yang berkenaan dengan perencanaan dan pengendalian operasi perusahaan. Pengguna  output lainnya adalah para karyawan penting seperti akuntan, insinyur serta pihak luar seperti investor dan kreditor. 
                            iii.      Pertimbangan Perancangan sistem Pemrosesan
Konsep perancangan sistem seharusnya mencerminkan prinsip-prinsip perusahaan. Berikut ini dasar-dasar yang perlu diperhatikan dalam prioritas perancangan sistem menurut Wilkinson (1993):  (1) Tujuan dalam perencanaan sistem dan usulan proyek seharusnya dicapai untuk menghasilkan kemajuan dan kemampuan sistem yang lebih besar. (2) Mempertimbangkan  trade-off  yang memadai antara manfaat dari tujuan perancangan sistem dengan biaya yang dikeluarkan. (3) Berfokus pada permintaan fungsional dari sistem. (4) Melayani berbagai macam tujuan. (5) Perancangan sistem memperhatikan keberadaan dari pengguna sistem (user).
Sedangkan Cushing (1983) mengemukakan bahwa: (1) Kesesuaian desain sistem dengan tujuan sistem informasi dan organisasi. (2) Berdasarkan kelayakan ekonomis, berarti sistem memiliki  net present value positif. (3) Kelayakan operasional,  input  dikumpulkan ke sistem dan  output-nya dapat digunakan.
7)   Fungsi sistem informasi akuntansi
Setiap sistem informasi akuntansi melaksanakan lima fungsi utama, yaitu pengumpulan data, pemrosesan data, manajemen data, pengendalian data (termasuk security), dan penghasil informasi. Setiap  fungsi terdiri atas beberapa langkah dan urutan langkah tersebut membentuk suatu prosedur.
                                i.      Pengumpulan Data
Fungsi pengumpulan data terdiri atas memasukkan data transaksi melalui formulir, mensyahkan serta memeriksa data untuk memastikan ketepatan dan kelengkapannya. Jika data bersifat kuantitatif, data dihitung dahulu sebelum dicatat. Jika data jauh dari lokasi pemrosesan, maka data harus ditransmisikan lebih dahulu.

                              ii.      Pemrosesan Data
Pemrosesan data terdiri atas proses pengubahan  input  menjadi  output.  Fungsi pemrosesan data terdiri atas langkah-langkah sebagai berikut: (1)Pengklasifikasian atau menetapkan data berdasar kategori yang telah ditetapkan. (2) Menyalin data ke dokumen atau media lain (3) Mengurutkan atau menyusun data menurut karaktersitiknya.(4) Mengelompokkan atau mengumpulkan transaksi sejenis.(5) Menggabungkan atau mengkombinasikan dua atau lebih data atau arsip.(6)Melakukan penghitungan.(7) Peringkasan, atau penjumlahan data kuantitatif.(8)Membandingkan data untuk mendapatkan persamaan atau perbedaan yang ada.
                            iii.      Manajemen Data
Fungsi manajemen data terdiri atas tiga tahap, yaitu: penyimpanan, pemutakhiran dan pemunculan kembali  (retrieving).  Tahap penyimpanan merupakan penempatan data dalam penyimpanan atau basis data yang disebut arsip. Pada tahap pemutakhiran, data yang tersimpan diperbaharui dan disesuaikan dengan peristiwa terbaru. Kemudian pada tahap  retrieving, data yang tersimpan diakses dan diringkas kembali untuk diproses lebih lanjut atau untuk keperluan pembuatan laporan.
Manajemen data dan pemrosesan data mempunyai hubungan yang sangat erat. Tahap pengelompokkan data dan pengurutan data dari fungsi pemrosesan data, misalnya sering dilakukan sebagai pendahuluan sebelum dilakukan tahap pemutakhiran dalam fungsi manajemen data. Manajemen data dapat dipandang sebagai bagian dari pemrosesan data. Manajemen data akan menunjang pencapaian efisiensi aktivitas dalam proses menghasilkan informasi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen terutama mengenai informasi aktivitas dan informasi kebijakan manajemen. 
                            iv.      Pengendalian Data.
Fungsi pengendalian data mempunyai dua tujuan dasar: (1) untuk menjaga dan menjamin keamanan aset perusahaan, termasuk data, dan (2) untuk menjamin bahwa data yang diperoleh akurat dan  lengkap serta diproses dengan benar. Berbagai teknik dan prosedur dapat dipakai untuk menyelenggarakan pengendalian dan keamanan yang memadai.
                              v.      Penghasil informasi 
Fungsi penghasil informasi ini terdiri atas tahapan pemrosesan informasi seperti penginterprestasian, pelaporan dan pengkomunikasian informasi.
k.                              Kinerja Individual
1)      Pengertian Kinerja
Secara etimologi, kinerja berasal dari kata prestasi kerja ( performance) Sebagaimana yang dikemukakan oleh Mangkunegara (2005) dalam Ratih (2009) bahwa istilah kinerja berasal dari kata job performance atau prestasi sesungguhnya yang dicapai seseorang yaitu hasil kerja secarakualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Menurut pendapat Mink 1993 dalam Dalmy (2009) terdapat lima karakteristik karyawan yang mempunyai kinerja tinggi, yaitu:
1.   Berorientasi pada prestasi. Karyawan ingin lebih maju dan apayang telah dicapainya saat ini.
2.   Percaya diri, karyawan harus mempunyai sikap mental yang positif yang mengarahkannya untuk bertindak dengan tingkat percaya diriyang tinggi.
3.   Pengendalian diri, dalam hal ini pengendalian diri karyawan harus mempunyai rasa displin diri yang sangat tinggi.
4.   Kompetensi, karyawan mampu mengembangkan kemampuan spesifik kompetensi berprestasi dalam pilihan mereka.
5.   Persisten, karyawan mempunyai piranti kerja yang didukung oleh suasana psikologis dan bekerja keras untuk mencapai tujuan.
2)      Dimensi-Dimensi Kinerja
Mangkunegara (2005) mengatakan bahwa kinerja dibedakanmenjadi dua, yaitu kinerja individu dan kinerja organisasi. Kinerja individual adalah hasil kerja karyawan baik dari segi kualitas maupun kuantitas berdasarkan standar kerja yang telah ditentukan, sedangkan kinerja organisasi adalah gabungan dari kinerja individu dengan kinerja kelompok.
Kinerja karyawan merupakan suatu ukuran yang dapat digunakan untuk menetapkan perbandingan hasil pelaksanaan tugas, tanggung jawab yangdiberikan oleh organisasi pada periode tertentu dan relatif dapat digunakan untuk mengukur prestasi kerja atau kinerja organisasi. Kinerja dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:
a)      Faktor individual yang terdiri dari: kemampuan dan keahlian, latar  belakang, dan demografi.
b)      Faktor psikologis yang terdiri dari: persepsi, sikap, kepribadian, pembelajaran, dan motivasi.
c)      Faktor Organisasi yang terdiri dari: sumber daya, kepemimpinan, penghargaan, struktur dan  job design.
3)      Pengertian Kinerja Individual
Kinerja Individual Penilaian kinerja berhubungan dengan penyelesaian tugas-tugas tertentu, apakah berhasil atau gagal dicapai oleh pekerja. Pencapaian ini juga perlu dikaitkan dengan perilaku dari pekerja selama proses penilaian. Kinerja dalam penelitian ini berhubungan dengan pencapaian serangkaian  tugas-tugas oleh individual. Kinerja yang semakin tinggi melibatkan kombinasi dan peningkatan efisiensi, peningkatan efektifitas, peningkatan produktivitas dan peningkatan kualitas. Kinerja yang lebih baik akan tercapai  jika individu dapat memenuhi kebutuhan individual dalam melaksanakan dan menyelesaikan tugas (Goodhue dan Thompson, 1995).
Penelitian yang dilakukan oleh Goodhue dan Thompson (1995) kinerja yang tinggi mengandung arti terjadinya peningkatan efisiensi, efektivitas  atau kualitas tinggi. Tingkat kesesuaian tugas-teknologi yang tinggi akan dapat meningkatkan dampak kinerja pemakai teknologi tanpa memperhatikan  situasi apa teknologi dimanfaatkan (sukarela atau terpaksa). Pada suatu tingkat pemanfaatan tertentu yang lebih besar dari nol, suatu teknologi yang memiliki  tingkat kesesuaian tugas-teknologi yang tinggi akan menimbulkan kinerja yang lebih baik karena teknologi tersebut lebih dapat memenuhi kebutuhan tugas individu. Dengan demikian kinerja individu merupakan fungsi dari pemanfaatan teknologi dan kesesuaian tugas-teknologi.
Penilaian kinerja seharusnya berdasarkan pada tugas-tugas tertentu yang dapat atau gagal dicapai oleh pekerja, dan apabila cocok, maka perlu dilakukan identifikasi perilaku pekerja dalam  melakukan pekerjaan selama periode penilaian. Dampak kinerja dalam penelitian ini berhubungan dengan pencapaian serangkaian tugas-tugas oleh individual. Kinerja yang semakin tinggi melibatkan kombinasi dari peningkatan efisiensi, peningkatan efektivitas, peningkatan produktivitas dan peningkatan kualitas.  Untuk dapat meningkatkan kinerja ke tingkat yang lebih tinggi maka aktivitas kerja harus dapat diidentifikasikan dan dianalisis.
Goodhue dan Thompson (1995) menyatakan bahwa ukuran variabel dampak kinerja dinyatakan dalam 2 elemen: (1) persepsi dampak dari sistem dan pelayanan komputer terhadap keefektivan, produktivitas; (2) persepsi dampak dari sistem pelayanan komputer terhadap kinerja mereka.
l.        Hubungan Sistem Informasi Akuntansi dengan Auditor Internal
Sistem informasi akuntansi merupakan proses mengumpulkan, menggolongkan, mengolah data transaksi, lalu menganalisis, dan dikomunikasikan hasilnya dalam bentuk laporan keuangan perusahaan. Dalam hal ini, auditor internal berperan penting dalam perusahaan untuk memeriksa sistem informasi akuntansi yang ada diperusahaan apakah sistem informasi akuntansi tersebut telah dijalankan sesuai dengan kebijakan perusahaan atau malah melenceng dari kebijakan perusahaan.
Budiasih (2002) menjelaskan bahwa auditor dalam melaksanakan pekerjaannya sebenarnya melakukan pemeriksaan terhadap data yang telah diproses oleh manajemen. Karena auditor memeriksa data dan data yang diperiksa tidak hanya sekedar data, akan tetapi data untuk memeriksa laporan keuangan juga harus diperiksa. Sehingga pekerjaan seorang auditor memerlukan keahlian khusus baik di bidang hardware, software maupun brainware yang merupakan perangkat keras ataupun lunak dari komputer. Ada tiga pendekatan utama terhadap auditing berdasarkan komputer, yaitu :
1)   Auditing Around The Computer 
Audit terhadap suatu penyelenggaraan sistem informasi berbasis komputer tanpa menggunakan kemampuan dan peralatan itu sendiri. Audit terjadi sebelum dilakukan pemeriksaan secara langsung terhadap data ataupun program yang ada di dalam itu sendiri. Pendekatan ini memfokuskan pada input dan output, sehingga tidak perlu memperhatikan pemrosesan komputer karena pada prinsipnya input yang benar akan menghasilkan output yang benar, sehingga yang digunakan auditor jikadalam memeriksa output menunjukkan hasil yang benar dari seperangkat input pada sistem pemrosesan, maka operasi pemrosesan transaksi dianggap benar
2)   Auditing Trough The Computer 
Audit terhadap suatu penyelenggaraan sistem informasi berbasis komputer dengan menggunakan fasilitas komputer yang sama dengan yang digunakan dalam pemrosesan data. Pendekatan ini dapat menggunakan perangkat lunak dalam bentuk Specialized Audit Software (SAS) dan Generalized Audit Software (GAS). Tujuan audit dengan pendekatan ini adalah memeriksa kebenaran software aplikasi yang digunakan. Kebenaran ini dapat berupa kebenaran perhitungan dan memastikan keandalan kendali-kendali aplikasi yang terdapat pada program aplikasi. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa jika sistem pemrosesan ternyata mengandung pengendalian yang memadai, maka kesalahan dan penyimpangan tidak mungkin luput dari pendeteksian, akibatnya keluaran secara layak dapatditerima sebagai andal.


3)   Auditing With The Computer 
Audit terhadap suatu penyelenggaraan sistem informasi berbasiskomputer dengan menggunakan komputer yang telah dilengkapi dengan software yang dapat membantu auditor untuk menghasilkan output yangdigunakan dalam proses audit. Jenis audit ini menggunakan software audit,yang akan membantu auditor dalam mengumpulkan dan mengevaluasi datayang sebagian besar data berupa elektronik. Salah satu software ini adalahteknik audit berbantuan komputer (Computer Assisted Techniques/CAATS). Dengan pendekatan ini audit memfokuskan secara langsung padatahap pemrosesan, pengeditan dan pemrograman.
m.    Model Hubungan Sistem informasi Akuntansi dan Kinerja
Penelitian tentang hubungan antara system informasi akuntansi dengan kinerja individual telah mendapat perhatian yang terus menerus,  dan penelitian ini dapat  digolongkan menjadi dua aliran, yaitu:  1) aliran yang memfokuskan pada pemanfaatan system informasi akuntansi, 2) aliran yang memfokuskan  pada kesesuaian tugas-teknologi. Berikut ini uraian dari masing-masing aliran penelitian diatas:
1)      Penelitian Berfokus Pemanfaatan Sistem Informasi Akuntansi
Penelitian yang memfokuskan pada pemanfaatan Sistem Informasi Akuntansi  kebanyakan menggunakan variabel sikap dan  keyakinan pemakai sistem  (user) untuk memprediksi pemanfaatan sistem informasi (Thompson,et al., 1991 dalam Jurnali dan Supomo, 2002). Penelitian ini memiliki kelemahan (Goodhue dan Thompson, 1995) yaitu : (1) pemanfaatan  Sistem informasi akuntansi tidak selalu sukarela. Biasanya lebih dipengaruhi  oleh berfungsinya rancangan sistem informasi untuk melaksanakan suatu pekerjaan dibandingkan dengan kualitas. (2) Semakin tinggi pemanfaatan sistem informasi akuntansi tidak secara otomatis berpengaruh positif terhadap peningkatan kinerja.
2)      Penelitian berfokus Kesesuaian Tugas-Teknologi
Thompson dan Goodhue (1995) dalam  penelitian Maria Yusti (2008) berargumentasi bahwa dampak kinerja ini dihasilkan  dari kecocokan tugas-teknologi, yakni apabila teknologi menyediakan sarana dan dukungan yang cocok dengan diperlukan oleh tugas yang didukungnya. Dalam hal ini penelitian akan lebih bermanfaat jika  dikombinasikan dengan faktor-faktor yang berkaitan dengan pemafaatan dan dampaknya terhadap kinerja.
n.      Hubungan persepsi auditor atas pemanfaaatan Sistem Informasi Akuntansi terhadap Kinerja individual.
Berdasarkan Pendekatan Sosiotehnikal dalam Sistem Informasi Akuntansi tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu tujuan pembentukan sistem informasi dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja karyawan yang pada akhirnya diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja perusahaan pula. Penelitian-penelitian terdahulu membuktikan bahwa kinerja seseorang yang menggunakan komputer (sistem informasi akuntansi) tidak hanya dipengaruhi oleh faktor teknologi informasi saja, tetapi juga melibatkan banyak faktor lainnya yaitu bisa dilihat dari presepsi seorang auditor : proses belajar, motivasi, kepribadian.
Konsep sosiotehnikal (Laudon, 1991: 15) menyatakan bahwa pelaksanaan sistem informasi yang baik memerlukan koordinasi yang baik pula dari faktor teknologi, manusia (user) dan organisasi. Penelitian yang memfokuskan pada pemanfaatan Sistem Informasi Akuntansi  kebanyakan menggunakan variabel sikap dan  keyakinan pemakai sistem  (user) untuk memprediksi pemanfaatan sistem informasi (Thompson,et al., 1991 dalam Jurnali dan Supomo, 2002). Penelitian ini memiliki kelemahan (Goodhue dan Thompson, 1995) yaitu : (1) pemanfaatan  Sistem informasi akuntansi tidak selalu sukarela. Biasanya lebih dipengaruhi  oleh berfungsinya rancangan sistem informasi untuk melaksanakan suatu pekerjaan dibandingkan dengan kualitas. (2) Semakin tinggi pemanfaatan sistem informasi akuntansi tidak secara otomatis berpengaruh positif terhadap peningkatan kinerja. Para akuntan perilaku dapat menerapkan pengetahuan presepsi terhadap banyak aktivitas organisasi termasuk evaluasi kinerja.

3.      Kerangka Konseptual







Rounded Rectangle: Kinerja Individual
(Y)

 




Gambar :  Model Penelitian Pengaruh Persepsi Auditor atas Pemanfaatan  Sistem  Informasi Akuntansi Terhadap Kinerja Individual

4.      Hipotesis
Berdasarkan kerangka teoritis di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :
H1 :   Terdapat  pengaruh yang positif dan signifikan persepsi auditor atas pemanfaatan Sistem Informasi Akuntansi terhadap  kinerja individual
F.     Metode Penelitian
1.      Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian merupakan tempat dimana peneliti akan melakukan penelitian yang mencangkup kegiatan pengumpulan data dan Pengambilan data serta mencari informasi-informasi yang berkaitan dengan topik pembahasan baik dari hasil wawancara maupun literature ilmiah yang ada pada tempat penelitian. Berhubungan dengan latar belakang permasalahan, maka peneliti mengambil tempat di Kantor Akuntan Publik Suprihadi yang beralamat di Jl. Soekarno Hatta D - 408 Malang
2.      Jenis Penelitian
Berdasarkan jenisnya, penelitian ini dapat dikategorikan sebagai penelitian kausalitas atau sebab akibat. Menurut Sugiyono (2008:11) penelitian kausalitas atau sebab akibat berguna untuk menganalisa hubungan-hubungan antar variabel satu dengan yang lainnya atau bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lainnya. Sifat hubungan-hubungan yang mungkin terjadi diantara variabel-variabel ini adalah asimetris, yaitu hubungan yang terjadi akibat dari variabel bebas terhadap variabel tidak bebas.
3.      Populasi dan sampel
Menurut Sugiyono (2008:80) Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.. Dalam penelitian ini, populasi sasaran adalah seluruh auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik Suprihadi yang beralamat di Jl. Soekarno Hatta D - 408 Malang.
Menurut Sugiyono (2008:81) Sampel adalah bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel dalam penelitian ini adalah salah satu Kantor Akuntan Publik yang ada dimalang. Responden dalam penelitian ini adalah auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik Suprihadi yang beralamat di Jl. Soekarno Hatta D - 408 Malang.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampling purposive. Menurut Sugiyono (2008:81) sampling purposive merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu ( kriteria tertentu ).
Adapun  kriteria-kriteria yang digunakan dalam pemilihan sampel sebagai berikut :
1)      Auditor Kantor Akuntan Publik Suprihadi Malang
2)      Terdaftar aktif sebagai auditor.

4.      Jenis dan Sumber data
a.      Jenis data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data subjek. Menurut Indriantoro dan Supomo (2009:145) Data Subjek merupakan jenis data penelitian yang berupa opini, sikap, pengalaman atau karakteristik dari seseorang atau sekelompok orang yang menjadi subjek penelitian ( responden). Data subjek dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari hasil pengisiaan kuisioner oleh KAP Suprihadi Malang.

b.      Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Menurut Indriantoro dan Supomo (2009:146). Data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Data primer secara khusus dikumpulkan oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan peneliti. Data primer dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari observasi langsung pada KAP Suprihadi Malang
5.      Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan kuesioner. Menurut Sugiyono (2008:142) Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau penyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Metode kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup. Dalam hal ini peneliti telah menyediakan jawaban sehingga responden tinggal memilih jawaban yang telah diajukan.

6.      Definisi Operasional Variabel
Menurut Sugiyono (2008:38) variabel adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.
Variabel penelitian dalam hal ini terdiri dari dua variabel, yaitu:
a.   Variabel Independen (X)/ Persepsi  Auditor  atas Pemanfaatan Sistem Informasi Akuntansi
Menurut Sugiyono (2008:39) Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen. Variabel Independen dalam penelitian ini adalah persepsi auditor atas pemanfaatan Sistem Informasi Akuntansi.
Variabel ini diukur dengan menggunakan Skala Likert 5 poin. Menurut Sugiyono (2008:93) Skala Likert 5 poin digunakan dengan cara, responden diminta menjawab setiap pertanyaan yang diberikan dengan alternatif jawaban, masing-masing diberi skor secara berurutan yang dimulai dari jawaban Sangat Tidak Setuju (STS) skor 1, Tidak Setuju (TS) skor 2, Ragu-ragu (R) skor 3, Setuju (S) skor 4 dan Sangat Setuju (SS) skor 5.



b.    Variabel Dependen (Y)/Kinerja Individual
Menurut Sugiyono (2008:39) Variabel dependen yaitu variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kinerja individual.
Variabel ini diukur dengan menggunakan Skala Likert 5 poin. Menurut Sugiyono (2008:93) Skala Likert 5 poin digunakan dengan cara, responden diminta menjawab setiap pertanyaan yang diberikan dengan alternatif jawaban, masing-masing diberi skor secara berurutan yang dimulai dari jawaban Sangat Tidak Sesuai (STS) skor 1, Tidak Sesuai (TS) skor 2, Ragu-ragu (R) skor 3, Sesuai (S) skor 4 dan Sangat Sesuai (SS) skor 5.
7.      Metode Analisis Data dan Uji Hipotesis
Analisa data dilakukan dengan menggunakan bantuan program komputer yaitu SPSS (Statistical Package For Social Science) versi 16.00. Beberapa teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
a.   Uji Validitas
Menurut Supardi (2005:155),“ Validitas merupakan tingkat di mana suatu alat pengukuran, mengukur apa yang seharusnya diukur”.Uji Validitas digunakan untuk mengukur seberapa tepat suatu tes dilakukan dengan menggunakan kuesioner dari hasil jawaban responden.


b.   Uji Reliabilitas
Menurut Supardi (2005:155), “Realibilitas adalah instrument yang dipakai untuk menunjukkan apakah hasil pengukuran relative konsisten apabila pengukuran diulangi dua kali atau lebih”.
c.    Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dimaksudkan untuk mengetahui apakah model regresi layak dipakai atas variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian.
1)      Uji Normalitas
Menurut Ghozali (2005:110) uji normalitas data bertujuan untuk mengetahui apakah data tersebut berdistribusi normal atau tidak, selain itu jika analisa menggunakan analisa parametrik maka wajib melakukan uji normalitas data. Pengujian normalitas data menggunakan one sample kolmogrov-smirnov test, dengan syarat jika asymp sig (2-tailed)>0,05, maka data tersebut berdistribusi normal. Sebaliknya jika asymp sig  (2-tailed)<0,05, maka data berdistribusi tidak normal.
2)      Uji Autokorelasi
Menurut Supranto (2009:73) Autokorelasi adalah kondisi dimana terdapat korelasi antara variabel error pengamatan dengan variabel error pengamatan yang lain. Cara pengujiannya menggunakan Statistik d Durbin-Watson. Mendeteksi autokorelasi bisa dilihat pada tabel D-W, yang bisa dilihat pada buku statistik yang relevan. Untuk menguji apakah ada autokorelasi negatif atau tidak, gunakan (4-d) sebagai pengganti d.
                                            i.      Apabila (4-d) < dL maka H0 yang mengatakan bahwa tidak ada autokorelasi negatif ditolak.
                                          ii.      Apabila (4-d) > du maka H0 yang mengatakan bahwa tidak ada autokorelasi negatif diterima.
                                        iii.      Apabila dL < (4-d) < du maka hasil pengujian tidak dapat disimpulkan.
3)      Uji Multikolinieritas
Menurut Supranto (2009:280) dikatakan terjadi multikolinieritas apabila variabel-variabel bebas berkorelasi satu sama lain. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas, jika variabel bebas saling berkorelasi maka variabel ini tidak orthogonal. Salah satu metode untuk mendeteksi adanya multikolinieritas dapat dilakukan dengan melihat angka Variance Inflation Factor (VIF), jika 0.1
4)      Uji Heteroskedastisitas
Menurut Ghozali (2005:105) uji Heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi berganda terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan lain. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi Heteroskedastisitas.
Untuk mengetahui ada tidaknya Heteroskedastisitas pada model regresi menurut Ghozali (2005:105) adalah “melihat grafik plit antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residualnya (SRESID)”. Jika terdapat pola tertentu, seperti titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit atau membentuk bentuk yang lain), maka mengindikasikan telah terjadi Heteroskedastisitas. Jika tidak ada pola yang jelas serta titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi Heteroskedastisitas.

8.      Analisis Regresi
Alat analisis yang digunakan dalam  penelitian ini adalah regresi linear yang digunakan untuk melihat indikator pemanfaatan system
informasi akuntansi terhadap kinerja individual auditor. Data diolah dengan bantuan software SPSS seri 16.00.  Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan model analisis regresi  variabel independen terhadap variabel dependen:
Model persamaan regresi Linier adalah:
Y=  a + bX
Dimana :
                              Y   =  Keberhasilan Kinerja Individual
a    =  Konstanta
b    =  Koefisien regresi X
X = Persepsi akuntan atas pemanfaatan Sistem Informasi Akuntansi
9.      Uji Hipotesis
Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini digunakan alat bantu SPSS for windows ver. 16.00 Adapun langkah-langkah uji hipotesis yang digunakan sebagai berikut:
Uji T
Menurut Supranto (2009:72) Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel bebas independen (X)/persepsi auditor atas pemanfaatan Sistem Informasi Akuntansi berpengaruh terhadap variabel terikat dependen (Y)/ kinerja individual pada Kantor Akuntan Publik Suprihadi Malang. Untuk melakukan pengujian dapat digunakan uji t, dengan rumus sebagai berikut:
        
Keterangan :       t  : thitung
                        r  : Korelasi parsial yang ditemukan
                        n : Jumlah sampel
Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan thitung dan ttabel  dengan tingkat signifikan t<0,10 (10%) dan pada tingkat derajat bebas df = n-k-1. Jika thitung>ttabel maka secara parsial variabel bebas berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat.